Sabtu, 06 April 2013

UNSUR PEMBANGUN DAN STRUKTUR DRAMA ANAK-ANAK





A.    PENGERTIAN DRAMA

Kata drama berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan. Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axcting), dan ketegangan pada para pendengar. Arti kedua, menurut Moulton Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).



Drama adalah satu bentuk lakon seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokoh-tokohnya. Akan tetapi, percakapan atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai pengertian action. Meskipun merupakan satu bentuk kesusastraan, cara penyajian drama berbeda dari bentuk kekusastraan lainnya. Novel, cerpen dan balada masing-masing menceritakan kisah yang melibatkan tokoh-tokoh lewat kombinasi antara dialog dan narasi, dan merupakan karya sastra yang dicetak. Sebuah drama hanya terdiri atas dialog; mungkin ada semacam penjelasannya, tapi hanya berisi petunjuk pementasan untuk dijadikan pedoman oleh sutradara. Oleh para ahli, dialog dan tokoh itu disebut hauptext atau teks utama; petunjuk pementasannya disebut nebentext atau tek sampingan.



B.     PENGERTIAN DRAMA ANAK



Secara umum pengertian drama anak adalah teks yang bersifat dialog dan isinya membentangkan sebuah alur (Luxemburg, 1984: 158). Dapat juga dikatakan bahwa drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan emosi lewat lakuan dan dialog, lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung, (Sudjiman, 1984: 20). Sedangkan secara khusus, pengertian drama anak-anak adalah proses lakuan anak sebagai tokoh. Dalam berperan, mencontoh atau meniru gerak pembicaraan seseorang, menggunakan atau memanfatkan pengalaman dan pengetahuan tentang karakter dan situasi dalam suatu lakuan, baik dialog maupun monolog guna menghadirkan peristiwa dan rangkaian cerita tertentu, (Wood dan Attfield, 1996:144).



Tidak jauh berbeda unsur pembangun karya sastra yang lain (prosa, puisi) karya sastra drama anak-anak mempunyai dua unsur pembangun, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang secara langsung berada dalam karya sastra (drama) anak-anak yang merupakan kesatuan struktur intern sedangkan unsur ekstrinsik adalah segala macam unsur yang berada di luar karya sastra (drama) anak-anak, unsur ekstrinsik ini dianggap sebagai bagian dari keseluruhan struktur yang membangun sebuah karya sastra (drama) anak-anak, jika ia terbukti memberi pengaruh terhadap keseluruhan karya tersebut.





C.    UNSUR PEMBANGUN DRAMA ANAK-ANAK



Tidak jauh berbeda unsur pembangun karya sastra yang lain (prosa, puisi) karya sastra drama anak-anak mempunyai dua unsur pembangun, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Unsur intrinsik adalah unsur yang secara langsung berada dalam karya sastra (drama) anak-anak yang merupakan kesatuan struktur intern sedangkan unsur ekstrinsik adalah segala macam unsur yang berada di luar karya sastra (drama) anak-anak, unsur ekstrinsik ini dianggap sebagai bagian dari keseluruhan struktur yang membangun sebuah karya sastra (drama) anak-anak, jika ia terbukti memberi pengaruh terhadap keseluruhan karya tersebut.



1.      Unsur Intrinsik Drama Anak-Anak

Seperti halnya karya prosa, unsur-unsur intrinsik yang membangun karya drama anak-anak, yaitu tokoh, alur, latar, dan tema.

a.      Tokoh

Tokoh dalam drama anak-anak selain orang dewasa dan anak-anak biasa juaga berupa bonek, binatang, tumbuhan, dan benda mati. Namun, tokoh boneka, binatang, tumbuhan, dan benda mati, sikap dan tingkah lakunya tetap menggambarkan kehidupan manusia.

Ciri-ciri tokoh drama anak-anak, yaitu memiliki ciri-ciri kebadanan, misalnya usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan kondisi wajah. Ciri-ciri kejiwaan, misalnya mentalitas, moral, temperamen, kecerdasan, dan kepandaian dalam bidang tertentu. Sedangkan ciri-ciri kemasyarakatan, misalnya status sosial, pekerjaan atau peranannya dalam masyarakat, pendidikan, ideologi, kegemaran, dan kewarganegaraan.

Tokoh utama adalah pelaku yang diutamakan dan biasanya intensitas kemunculannya lebih sering dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain. Tokoh tambahan adalah pelaku/tokoh yang kemunculannya lebih sedikit dan tidak begitu dipentingkan kehadirannya.

Penokohan drama anak-anak dapat diciptakan pengarang dengan cara mengungkapkan gambaran tentang tokoh melalui cakapan tokoh, penggambaran keadaan tokoh, dan tingkah laku tokoh.

b.      Alur

Sebagai mana pada cerita rekaan, alur disebut juga plot, jalan cerita, atau struktur neratif. Demikian pula alur drama disebut juga struktur drama. Berkaitan dengan drama anak-anak maka alur drama anak-anak adalah rangkaian peristiwa yang mempunyai hubungan sebab akibat. Struktur drama anak-anak digolongkan menjadi lima bagian, yaitu (a) perkenalan, (b) penajakan laku, (c) klimaks, (d) leraian, dan (e) keputusan (Christopher Rusell Reaske, 1996:29).

Alur atau struktur drama anak-anak pada umumnya mengandung lima bagian rangkaian peristiwa, yaitu:

1)   Perkenalan

2)   Konflik

3)   Klimaks

4)   anti klimaks

5)   penyelesaian.

Perkenalan adalah bagian rangkaian peristiwa dalam drama anak-anak berisi keterangan mengenai tokoh dan latar. Dalam bagian ini pengarang memperkenalkan para tokoh, menjelaskan tempat peristiwa, dan gambaran peristiwa yang akan terjadi.

Konflik adalah tahapan rangkaian peristiwa dalam drama anak-anak dengan alam, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan pencipta, manusia dengan diri sendiri.

Klimaks adalah tahapan rangkaian peristiwa dalam drama anak-anak yang menimbulkan puncak ketegangan. Peristiwa dalam tahapan ini merupakan pengubah nasib tokoh.

Antiklimaks adalah tahapan rangkain peristiwa dalam drama anak-anak yang menunjukan perkembangan lakuan kearah selesaian. Tahapan ini kadar pertentangan dan ketegangan mereda.

Penyelesaian adalah tahapan rangkaian peristiwa dalam drama anak-anak yang diakhiri dengan kebahagiaan, kedamaian, ataupun kesedihan. Ketentuan final dari segala pertentangan yang terjadi terungkapan.

c.       Latar

a)    Memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas

b)   Menciptakan kesan realitis kepada penbaca atau penonton,

c)    Menciptakan suasana yang seakan-akan nyata ada sehingga mempermudah pembaca atau penonton dalam berimajinasi,

d)   Mendorong pembaca atau penonton agar berperan kritis terhadap teks drama atau pementasan yang berkaitan dengan pengetahuan latar.



d.      Tema

Tema pada drama terdapat keseluruhan teks. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita suatu drama anak-anak. jadi, penentuan tema sebuah drama anak-anak dilakukan berdasarkan keseluruhan teks yang bersangkutan tidak hanya berdasarkan pada bagian tertentu.

Pada umumnya tema dalam teks drama anak-anak dinyatakan secara eksplisit. Di samping itu tema drama anak-anak merupakan pikiran utama yang dikaitkan dengan masalah kebenaran dan kejahatan. Misalnya, perbuatan yang jahat akan dikalahkan oleh perbuatan yang baik.

2.      Unsur Ekstrinsik Drama Anak-Anak

Adapun unsur ekstrinsik karya sastra, yaitu unsur-unsur yang meliputi biografi pengarang, aspek psikologi, dan aspek sosiologi.

a.      Biografi Pengarang

Seorang pengarang karya sastra, dalam hal ini pengarang sastra anak-anak perlu menjiwai corak kepribadian anak-anak.

b.      Psikologi

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang (P. Hariyanto, 1997/1998: 9.30) Psikologi juga dikatakan ilmu yang berkaitan dengan proses-proses mental, baik berkenaan dengan proses mental yang normal maupun yang abnormal dan pengaruhnya pada perilaku atau ilmu pengetahuan tentang gejala dan berbagai kegiatan jiwa. Pengarang drama anak-anak dalam menulis hasil karyanya sudah barang tentu menggunakan kaidah-kaidah dari ilmu jiwa anak-anak atau karakter khusus yang dimiliki oleh binatang tertentu

c.       Sosiologi

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai struktur  sosial dan proses-proses sosial (P. Hariyanto, 1997/1998: 9.32). Pengarang menulis karya drama anak-anak juga dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat asalnya, kondisi ekonomi, dan realitas sosial.

D.    CIRI-CIRI DRAMA ANAK

Drama anak-anak tidak jauh beda dengan cerita anak-anak, baik dari segi bahasanya, tema, pesannya. Yang berbeda adalah dari segi dialog yang sederhana dan jumlah adegan yang tidak terlalu panjang dan berbelit.



E.     
Daftar Pustaka

-          Luxemburg, J.V.Dkk. ( 1984 ). Pengantar Ilmu Sastra. Terjemahan Dick Hartoko.Jakarta: Gramedia.

-          Rahmanto, B & Hariyanto, P. ( 1997 ). Cerita Rekaan Dan Drama.Jakarta: Universitas Terbuka.

-          Sudjiman,P. ( 1984 ). Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Gramedia.

-          Wood, E & Adffield, J. ( 1996 ). Play Learning And The Early Childhood Curiculum. London: Paul Chapman Publishing.

-          Hj. Dra . Yusi Rosdiana, M.Pd., Dkk. ( 2007 ). Bahasa Dan Sastra Indonesia Di SD. Jakarta. Universitas Terbuka.


Desain materi pembelajaran



A.    PENGERTIAN DESAIN MATERI PEMBELAJARAN
Bahan atau materi pembelajaran (learning materials) adalah segala sesuatu yang menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan pendidikan tertentu. Materi pelajaran merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran, bahkan dalam pembelajaran yang berpusat pada materi pelajaran (subject-centered teaching), mater pelajaran merupakan inti dari kegiatan pembelajaran. Menurut subject sentered teaching keberhasilan suatu proses pembelajara ditentukan oleh seberapa banyak siswa dapat menguasai materi kurikulum. Materi pelajaran dapat dibedakan menjadi :
1.         Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan menunjuk pada informasi yang disampaikan dalampikiran (mind) siswa, dengan demikian pengetahuan berhubungan dengan berbagai informasi yang harus dihafal dan dikuasai oleh siswa, sehingga manakala diperlukan siswa dapat mengungkapkan kembali.
2.         Keterampilan (skill)
Menunjuk pada tindakan tindakan- tindakan (fisik dan non fisik) yang dilakukan seseorang dengan cara yang kompeten untuk mencapai tujuan tertentu.
3.         Sikap (attitude)
Sikap menunjuk pada kecerdasan seseorang untuk bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang diyakini keberadaannya oleh siswa.

Membedakan isi materi pelajaran menjadi 4 macam yaitu fakta, konsep, prosedur dan prinsip.
a.         Fakta
Fakta adalah sifat dari segala suatu gejala, peristiwa benda, yang wujudnya dapat ditangkap oleh panca indra.
Fakta merupakan pengetahuan yang berhubungan dengan data spesifik (tunggal) baik yang telah maupun yang sedang terjadi yang dapat diuji atau observasi.
Fakta merupakan materi pelajaran yang paling sederhana, karena materi ini sifatnya hanya mengikat hal-hal yang spesifik.
Contoh : 1. Ibu kota Indonesia adalah Jakara
                   Merupakan fakta karena pada kenyataannya demikian.
               2. Manusia berjalan dengan kakinya
                   Merupakan fakta yang dapat dirasakan dan dapat dilihat.
b.         Konsep
Konsep adalah abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari kelompok benda atau sifat. Suatu konsep memiliki hubungan yang disebut atribut. Atribut adalah sesuatu yang dimiliki suatu konsep. Gabungan dari berbagai atribut menjadi suatu pembeda antara satu konsep dengan konsep yang lain.
Contoh : 1. Anak laki-laki merupakan suatu konsep, yang memiliki atribut tentu                       yang berbeda dengan atribut yang dimiliki oleh konsep anak
 perempuan.
Dengan demikian pemahaman tentang konsep harus didahului dengan pemahaman tentang data dan fakta, sebab atribut itu sendiri pada dasarnya adalah sejumlah fakta yang terkandung dalam objek.  
c.         Prosedur
Prosedur adalah materi pelajaran yang berhubungan dengan kemampuan siswa untuk menjelaskan langkah-langkah secara sistematis tentang sesuatu. Misalnya prosedur tentang langkah-langkah melakukan suatu percobaan, langkah-langkah membuat suatu karangan, dan lain sebagainya.
d.        prinsip
hubungan antara dua atau lebih konsep yang sudah teruji secara empiris yang dinamakan generalisasi yang selanjutnya dapat ditarik kedalam prinsip.
Contohnya :
·         prinsip tentang ketertiban lalulintas
·         prinsip tentang kesejahtaraan sosial
·         prinsip tentang penguapan
·         prinsip tentang radiasi
·         dll. “[1]
Disamping jenis materi diatas, ada juga jenis materi pelajaran yang disebut dengan keterampilan. Keterampilan adalah pola kegiatan yang memiliki tujuan tertentu yang memerlykan manipulasi dan koordinasi informasi. Keterampilan dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu:


*      keterampilan Intelektual
keterampilan intelektual adalah keterampilan berfikir melalui usaha menggali, menyusun dan menggunakan berbagai informasi, baik berupa data, fakta, konsep, ataupun prinsip dan teori.
Contohnya:
·         keterampilan memecahkan masalah melalui langkah-langkah yang sistematis.
·         Keterampilan mengevaluasi suatu program atau mengevaluasi suatu objek.
·         Keterampilan menyusun program kegiatan.
·         Keterampilan membuat perencanaan.
*      Keterampilan  fisik
Keterampilan motorik seperti keterampilan mengoprasikan komputer, keterampilan mengemudi, keterampilan memperbaiki suatu alat, dan lain sebagainya.
Bahan atau materi pelajaran dapat digolongkan menjadi 4 tingkatan, diantaranya adalah :
1.      Fakta khusus
Fakta khusu adalah bentuk materi sederhana. Fakta khusus ini biasanya  merupakan informasi yang tingkat kegunaannya paling rendah. Misalnya penduduk miskin di Jawa Barat berkisar antara 1 sampai 1,2 juta jiwa. Penduduk Jawa Barat biasanya menggunakan waktu untuk mambaca antara 30-45 manit setiap hari.
2.      Ide-ide pokok
Ide-ide pokok bisa berupa prinsip atau generalisasi. Memahami ide pokok mungkin kita bisa menjelaskan sejumlah gejala spesifik atau sejumlah materi pelajaran.
3.      Konsep
Memahami konsep berarti memahami sesuatu yang abstrak sehingga mendorong anaka untuk berfikirlebih mendalam. Konsep akan muncul dalam berbagai konteks, sehingga pemahaman konsep akan terkait dalam berbagai situasi, misalnya konsep tentang kemiskinan, kebudayaan, perubahan sosial,, dan lain sebagainya.
4.      Sistem berfikir
Sistem berfikir berhubungan dengan kemampuan untuk memecahkan maslah secara empiris, sistematis dan terkontrol yang kemudian dinamakan berfikir ilmiah. Setiap disiplin ilmu memiliki sistem berfikir yang sama. Oleh sebab itu materi tentang sistem berfikir erat kaitannya dengan stuktur keilmuan.[2]

B.     SUMBER MATERI PELAJARAN
Dalam pembelajran konvensional setiap guru menentukan buku teks sebagi satu-satunya materi pelajaran. Bahkan pembelajaran yang berorientasi kepada kurikkulum subjek akademis,buku teks yang telah disusun oleh pengembang kurikulum merupakan sumber utama. Dengan demikian perubahan atau penyempurnaan kurikulum pada dasarnya adalah penyempurnaan dan perubahan buku ajar. Akibatnya apabila terjadi berubahan kurikulum maka selalu diikuti perubahan buku pelajaran.
Namun demikian apakah buku pelajaran merupakan satu-satunya sumber bahan pelajaran? Ternyata tidak. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut :
1.        Dewasa ini ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat, sehingga kalau guru dan siswa hanya mengandalkan buku teks sebagai sumber pelajaran, bisa terjadi materi yang dipelajarai akan cepat usang. Dengan demikian guru dituntut untuk menggunakan sumber lain yang dapat menyajikan informasi terbaru, misalnya menggunakan jurnal yang menyajikan berbagai pengetahuan mutakhir, majalah, koran dan sumber informasi elektronik, misalnya dengan menggunakan dan memamfaatkan internet dan lain sebaginya.
2.        Kemajuan teknologi informasi memungkinkan materi pelajaran bukan hanya disimpan dalam buku teks saja, akan tetapi bisa disimpan dalam berbagai bentuk teknoligi yang lebih efektif dan efisien. Misalnya dalam bentuk CD, kaset, dll. Dalam bentuk semacamini materi pelajaran akan lebih menarik untuk dipelajari sebab dengan berbagai bentuk animasi, maka materi pelajaran akan lebih jelas dan kongkret. Sesuatu yang tidak mungkin disajikan dalam buku cetak karena keterbatasannya, maka dalam bentuk media elektronik akan dapat disajikan.
3.        Tuntutan kurikulum seperti pada kurikulum satuan pendidikan (KTSP), menuntut siswa agar tidak hanya sekedar menguasai informasi teoritis, akan tetapi bagaimana teori tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan daerah dan lingkungan dimana siswa tersebut tinggal. Dengan demikian kehidupan masyarakat nyata mestinya dijadikan sebagai salah satu bahan pelajaran.
Dari tiga alasan tersebut mestinya dapat membuka wawasan bagi seorang guru bahwa ternyata banyak sumber yang dapat dimanfaatkan untuk membelajarkan siswa, selain buku teks yang secara masal. Guru yang hanya mengandalkan buku teks sebagai sumber materi pelajaran enderung pengelolaan pembelajaran hanya menyajikan materi pelajaran yang belum tentu berguna untuk kehidupan siswa.
Sumber materi pelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran dapat dikategorikan sebagai berikut.
a.         Tempat atau lingkungan
Lingkungan merupakan sumber pelajaran yang sangat kaya sesuai denga tuntutan kurikulum. Ada duabentuk lingkungan belajar, yaitu:
*   Lingkungan pertama atau tempat yang sengaja didesain untuk belajar siswa, seperti laboratorium, perpustakaan, ruang internet, dan lain sebagainya.lingkungan semacam ini dikenal dengan lingkungan by disign. Karena tempat semacam ini dirancang untuk proses pembelajaran.
*   Lingkungan kedua lingkungan yang tidak didesin untuk proses pembelajran akan tetapi keberadaannya dapat dimanfaatkan , misalnya halaman sekolah, taman sekolah, kantin, kamar mandi, dll. Lingkungan ini dikenal dengan lingkungan yang bersifat by utilization.
Kedua bentuk lingkungan tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru karena memeng selain memiliki inforasi yang sangat kaya untuk mempelajarai materi pelajaran, juga secara langsung dapat menjadi tempat belajar setiap siswa.
b.        Orang atau narasumber
Pengetahuan itu tidak statis , akan tetapi bersifat dinamis, yang terus berkembang sangat cepat. Kadang-kadang apa yang disajikan dalam buku teks tidak sesuai perkembangan ilmu pengetahuan yang mutakhir. Misalnya peraturan perundang-undangan baru tentang sesuatu, penemuan-penemuan-penemuan baru dalam berbagai ilmu pengetahuan mutakhir,seperti munculnya berbagai penyakit seperti flu burung, sapi gila, demam berdarah, dll. Serta berbagai jenis rekayasa genetik seperti munculnya berbagai fenomena alam, dan  lain sebagainya, yang semuanya itu tidak mungkin di pahami oleh semua guru. maka untuk mempelajari konsep baru semacam ini guru dapat menggunakan orang yang lebih menguasai persoalan tersebut misalnya dengan mengundang dokter, polisi, dan sebagainya sebagai sumber bahan pelajaran.
c.         Objek
Objek atau benda yang sebenarnya merupakan sumber informasi yang akan membawa siswa pada pemahaman yang lebih sempurna tentang sesuatu. Mempelajari bahan pelajaran dari benda yang sebenarnya bukan hanya dapat menghindari kesalahan persepsi tentang isi pelajaran, akan tetapi juga dapat membuat pelajaran lebih akurat dan motivasi belajar siswa akan lebih baik.
d.        Bahan cetak atau noncetak
Ada tiga jenis bahan cetak dan non cetak yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar siswa diantaranya adalah:
*        Bahan yang dapat dijadikan sebagi sumber belajar utama untuk setiap individu. Pada bentuk ini bahan pelajaran disusun sedemikian rupasehingga siswa dapat belajar secara individual, misalnya bahan cetak seperti modul atau pelajaran berprograma.
*         Bahna cetak yang disusun sebagi bahan penunjang, dan dirancang buka sebagai bahan pelajaran individu. Artinya bahan pembelajaran dari buku cetak ini masih memerlukan guru atau instruktur secara langsung. Yang termasuk bahan jenis ini adalah buku paket, diklat, hand-out, dll
*        Bahan yang tidak dirancang khusus untuk pembelajaran , tidak dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi siswa dalam mempelajari sesuatu. Bahan yang demikian biasanya berisi tentang gagasan dan ide-ide pengarang secara bebas, atau berisi tentang hasil-hasil penelitian mutakhir dalam satu bidang kajian tertentu. Yang termasuk dalam jenis ini adalah berbagai buku populer atau jurnal ilmiah.

C.    PENGEMASAN MATERI PEMBELAJARAN
1.      Prinsip Pengemasan
Materi pembelajaran pada hakikatnya adalah pesan-pesan yang ingin kta dampaikan pada anak didik untuk di kuasai. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan baik berupa ide, data/fakta, konsep dan lain sebagainya, yang dapatberupa kalimat, tulisan, gambar, peta atapun tanda. Pesan dapat disampaikan melalui bahasa verbal atau non verbal. Pesan yang disampaikan perlu dipahami oleh siswa, sebab manakala tidak dipahami maka pesan tidak akan terjadi informasi yang bermakna. Adakala satu pesan tidak diperoleh penerima pesan (siswa) atau tidak  sesuai dengan maksud pengirim pesan (guru). hal ini perlu di waspadai oleh sebab salah pengertian dalam menerima pesan bisa di pengaruhi oleh keadaan individu yang menerima pesan itu sendiri.
Agar pesan yang disamapaikan bermakna sebagai bahan pelajaran, maka ada sejumlah kriteria yang harus diperhatikan diantaranya sebagai berikut:
a.       Novelty, artinya suatu pesan akan bermakna apabila bersifat baru atau mutakhir. Pesan yang usang atau yang sebenarnya sudah diketahui siswa akan mempengaruhi tingkat motivasi dan perhatian siswa dalam mempelajari bahan pelajaran.
b.      Proximity, artinya pesan yang disampaikan harus sesuai dengan pengalaman siswa. Pesan yang disajikan jauh dari pengalaman siswa cenderung kurang diperhatikan.
c.       Conflict, artinya pesan yang disajikan sebaiknya dikemas sedemikian rupa sehingga menggugah emosi.
d.      Humor, artinya pesan yang disampaikan sebaiknya dikemas sehingga menampilkan kesa lucu. Pesan yang dikemas dengan lucu cenderung menarik perhatian.
Pengemasan materi pembelajaran dapat dilakukan dengan 2 cara yakni pengemasansecara visual dan pengemasan dalam bentuk cetakan. Beberapa pertimbangan teknis dalam mengemas materi pembelajaran menjadi bahan belajar diantaranya adalah:
a.       Kesesuaian dengan tujuan yang hendak dicapai
b.      Kesederhanaan
c.       Unsur-unsur desain pesan
d.      Pengorganisasian bahan
e.       Petunjuk cara penggunaan

2.      Bentuk-bentuk Pengemasan
Meteri pelajaran yang harus dipahami siswa dapat dikemas dalam berbagai bentuk, antara lain:
a.       Materi pelajaran terprogram
Materi pelajaran terprogram adalah salah satu bentuk penyajian meteri pembelajaran individual, sehingga materi pembelajaran dikemas untuk dapat dipelajari secara mndiri. Terdapat beberapa ciri dari materi pembelajaran terprogram:
1)      Materi pelajaran disajikan dalam bentuk unit atau bagian kecil.
2)      Menuntut aktifitas siswa
3)      Mengetahui dengan segera setiap selesai mempelajari materi pelajaran
Materi terprogram bisa dikemas dalam bentuk tercetak dan bisa dalam bentuk non-tercetak seperti dalam bentuk vidio.
b.      Materi pelajaran melalui modul
Modul adalah satu kesatuan program yang lengkap, sehingga dapat dipelajari oleh siswa secara individual. Materi pelajaran yang dikemas dalam bentuk modul memungkinkan siswa dapat belajar lebih cepat atau lebih lambat sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Dalam modul ini minimal berisi tentang:
1)      Tujuan yang harus dicapai
2)      Petunjuk penggunaan
3)      Kegiatan belajar
4)      Rangkuman materi
5)      Tugas dan latihan
6)      Sumber bacaan
7)      Item-item tes
8)      Kriteria keberhasilan
9)      Kunci jawaban

c.       Materi pelajaran kompilasi
Kompilasi adalah bahan belajar yang disusun dengan mengambil bagian-bagian yang dianggap perlu dari berbagai sumber belajar dan menggabungkannya menjadi satu kesatuan yang menjadi bahan kompilasi biasanya berasal dari buku-buku teks yang dianggap langka sehingga sulit didapatkan oleh para siswa.
Agar penyusunannya sistematis, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, antara lain:
1)      Tentukan tujuan yang harus dicapai oleh pengemasan materi pelajaran melalui sistem kompilasi
2)      Kemukakan secara ringkas tentang bahan-bahan yang dikompilasikan
3)      Jelaskan petunjuk dalam mempelajari bahan kompilasi
4)      Buatlah alat tes untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mempelajari kompilasi
5)      Antara satu bahan yang diambil dari satu sumber dan sumber lainnya diberi penyekat

D.    MERUMUSKAN MATERI PEMBELAJARAN
Dalam menetapkan materi pembelajaran ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai berikut:
1.    Adanya kesesuaian dengan pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.
2.    Adanya kesesuaian dengan tingkat pendidikan/perkembangan siswa pada umumnya
3.    Adaya pengorganisasian materi secara sistematik dan berkesinambungan
4.    Adanya cakupan hal-hal yang bersifat faktual maupun konseptual.
Langkah-langkah merumuskan materi pembelajaran adalah:
1.    Menentukan KD yang akan dikembangkan menjadi materi pokok
2.    Memahami substansi rumusan KD, apakah pernyataan KD tersebut berupa fakta , konsep, prinsip, dan prosedur,.
3.    Setelah memahami substansi KD yang mengarah kepada fakta, konsep, prinsip, dan prosedur, maka langkah berikutnya adalah merumuskan materin pokok pembelajaran.
4.    Uraian materi pokok pembelajaran harus di sususn secara sistematis, agar memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran.
Contoh teknik perumusan materi pembelajaran
Kompetensi Dasar
Materi pokok
Menguraikan Berwudhu
1.    Dalil naqli tentang wudhu
2.    Niat wudhu
3.    Tata cara wudhu
4.    Kriteria air yang digunakan untuk berwudhu
5.    Hikmah wudhu
Pada tabel diatas, dapat diperhatikan tentang pengembangan KD menjadi materi pokok. Berdasarkan rumusan KD tersebut dapat dikembangkan kedalam berbagai macam bentuk materi pokok. Namun demikian.,tingkat kedalaman dn keluasan materi harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan kompetensi siswa.


Daftar pustaka
Sanjaya, Wina. (2008). Perencanaan dan desain sistem pembelajaran. Bandung: Kencana Prenada media group.

Anwar, Kasful dan Hendra Harmi. (2011). Perencanaan sistem pembelajaran kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Bandung: Alfabeta, cv.



[1] Menurut Merril (1977:142)
[2]Menurut  Hilda Taba (1962: 144)